Vaksin Covid-19, Cahaya Di Ujung Lorong Gelap Pandemi?

Perjalanan Vaksin Covid-19 yang jauh, membuat segenap instansi harus kuat bertaruh. Menengok beberapa bulan lalu hingga saat ini berbagai instansi kian unjuk gigi memperkenalkan Vaksin Covid-19 yang dikembangkan hingga dinilai siap berlayar dan memberi satu sinyal harapan yakni kesembuhan.


Catatan WHO Internasional mengungkapkan berbagai instansi dengan sumber dana beragam pun memulai proyek pengembangan vaksin mereka, seperti Coalition for Epidemic Preparedness Innovation (CEPI) yang merupakan organisasi swasta dalam penanganan epidemi yang didanai oleh Welcome Trust, Bill and Melinda gates Foundation, European Commission, dan delapan negara lain yang mendukung pengembangan vaksin melawan patogen epidemik yang masuk dalam prioritas World Health Organization. Tak hanya itu, terdapat pula delapan instansi lainnya seperti University of Oxford/AstraZeneca; Sinovac Biotech; Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm; Beijing Institute of Biological Products/Sinopharm; Moderna/NIAID; dan BioNTech/ Fosun Pharma/Pfizer yang turut mengembangkan Vaksin Covid-19 pentolan mereka masing-masing.

Guna menghasilkan vaksin baru hingga dapat diproduksi masal, pergolakan sang kala dengan pengembangan vaksin membutuhkan waktu kisaran 12 hingga 18 bulan. Tiga fase pun harus dilalui agar vaksin bak buah ranum yang siap dipetik. Fase awal adalah uji coba pra-klinis (Preclinical Testing) yang diujikan kepada hewan seperti monyet atau tikus untuk melihat respon kekebalan tubuh penerima. Setelahnya beranjak ke fase pertama (Phase I: Safety Trials), vaksin diberikan kepada sejumlah pasien untuk menguji keamanan, ketepatan dosis, dan memastikan rangsangan terhadap sistem imun tubuh penerima. Fase kedua (Phase II: Expanded Trials), vaksin yang telah lolos uji fase pertama diujikan kepada ratusan orang yang dikelompokkan berdasarkan usia untuk melihat keterikatan usia pada pengaruh vaksin. Uji coba ini kemudian diuji keamanan dan kemampuan vaksin untuk merangsang kekebalan tubuh pada masingmasing usia.

Terakhir, fase ketiga (Phase III: Efficacy Trials), vaksin diujikan kembali kepada ribuan orang dan melihat seberapa banyak yang terinfeksi dibandingkan dengan sukarelawan placebo (pengobatan yang tidak berdampak atau penanganan palsu). Uji coba ini bertujuan untuk menentukan kemampuan vaksin melindungi terhadap virus korona. Tahap berikutnya adalah approval atau persetujuan, yakni vaksin yang telah melalui berbagai tahap sebelumnya ditinjau oleh pemerintah tiap negara (regulator approval) untuk memutuskan vaksin akan disetujui atau tidak. Selama pandemi, vaksin dapat hak untuk penggunaan darurat sebelum disetujui secara resmi. Jika kondisi darurat, dapat pula dengan menggabungkan beberapa fase sehingga akan lebih cepat dikarenakan kebutuhan.

Data pada tanggal 21 September 2020 menunjukkan jumlah vaksin di dunia yang sedang dikembangkan sejumlah 240 kandidat vaksin telah memasuki tahap awal pengembangan, 40 kandidat sudah memasuki tahap uji klinis, dan 9 di antaranya sudah memasuki tahap final untuk diujikan pada relawan manusia. Adapun kesembilan instansi yang telah memasuki tahap finaldiantaranya Moderna Therapeutics, Pfizer. Universitas Oxford dan AstraZenecc, Sinovac, Sinopharm, Murdoc's Children Research Institute, CanSino Biologics, Sputnik V, Imperial College London. Namun, merujuk pada lama resmi Center for Disease Control and Prevention (CDC) hanya 2 vaksin yang diujikan pada fase ketiga(AstraZeneca’s COVID-19 vaccine & Janssen’s COVID-19 vaccine). Di sisi lain, CDC dalam laman resminya juga menyatakan terdapat dua vaksin yang telah di otorisasi dan direkomendasikan untuk digunakan mencegah COVID-19. Dua vaksin tersebut yakni​​​​Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine​​ dan Moderna’s COVID-19 vaccine​​.

Moderna menjadi yang pertama mengembangkan vaksis berbasis mRNA-SARS-CoV-2 (mRNA-1273). mRNA menjadi platform pengembangan vaksin dikarenakan fleksibilitas yang tinggi dalam manipulasi antigen dan kecepatan yang baik. Sekali diinjeksikan, mRNA yang dikirimkan akan diproses oleh sel imun secara cepat dan mulai memproduksi protein target secara langsung melalui translasi, dan diikuti dengan aktivasi sel imun lainnya untuk mengenali protein virus yang baru terbentuk sehingga akan terbentuklah antibodi. Moderna memulai uji klinis dengan vaksin berdasarkan mRNA-1273 hanya selama dua bulan sejak identifikasi untai RNA yang menunjukkan keberadaan virus Covid-19, tepatnya tanggal 16 Maret 2020, mulai dikembangkan fase pertama. Terdapat dua jenis vaksin RNA yang dapat digunakan untuk melawan infeksi pathogen, yakni vaksin mRNA non-replikasi dan vaksin mRNA yang bereplikasi atau melakukan self-amplifying.

Terdapat empat keunggulan utama dalam keamanan dan efektivitas penggunaan vaksin berbasis mRNA ini dibandingkan dengan pendekatan konvensional. Pertama, vaksin berbasis mRNA meminimalisir potensi risiko infeksi dan induksi insersi mutagenesis akibat degradasi mRNA dalam sel lingkungan mikro. Kedua, efektivitas yang tinggi untuk meningkatkan imun karena perancangan modifikasi struktur mRNA akan meningkatkan kestabilan dan translasi yang baik. Ketiga, potensi yang tinggi dari vaksin berbasis mRNA dalam imunisasi dosis rendah untuk menetralisir immunoglobulin sehingga dapat menginduksi respon imun yang kuat dengan mengaktivasi sel T. Keempat, dapat diproduksi secara massal dengan cepat untuk dapat mengobati populasi yang terjangkit. Keseluruhan faktor ini membuat penggunaan vaksin berbasis mRNA lebih cocok dijadikan respon cepat yang dapat dioptimalkan selama pandemi.

Beralih ke Vaksin berbasis Vektor Adenovirus Type-5 SARS-CoV-2 (Ad5-nCoV). Pengembangan vaksin ini dipimpin oleh CanSino Biologics yang bekerja sama dengan berbagai institusi mulai dari pendidikan hingga professional. Penelitian vaksin ini hanya berselang satu hari dari vaksin yang dikembangkan oleh Moderna, yakni pada 17 Maret 2020. Uji coba pengembangan vaksin ini dilakukan di Wuhan, China yang meliputi pemberian dosis yang meningkat secara berkala, single-center, pasien yang dipilih, hingga fase pertama vaksin vektor Ad5 Covid19. Metode pengujian yakni diujikan kepada peserta tidak terinfeksi Covid-19 yang berusia 18 dan 60 tahun dan dikonfirmasi oleh hasil negative menggunakan serum spesifik antibodi IgM dan IgG yang diuji dengan rapid test komersial Covid-19, uji asam nukleat negative pada uji swab pada faring atau sputum dan dubur yang dideteksi dengan alat PCR (Polymer Chain Reaction), dan hasil CT scan dada yang menunjukkan tidak adanya tanda infeksi Covid-19.

Adapun Vaksin Berbasis Virus Terdeaktivasi (PiCoVacc), yakni Pemurnian DNA yang dilemahkan. Platform Vaksin ini merupakan pengembangan vaksin secara konvensional dan telah teruji aman serta efektif dalam mencegah penyebab terjadinya penyakit yang disebabkan oleh virus seperti influenza, dan polio. Dalam pengembangan pra-klinis secara in-vitro untuk menetralisir dan menuji model vaksin Covid-19, dilakukan isolasi untai virs SARS-CoV-2 dari sampel bronchoalbeloar lavage fluid (BALF) 11 pasien rumah sakit yang terinfeksi virus ini. Vaksin ini didasarkan pada memicu replikasi virus dan meningkatkan produksi antigen sehingga imun akan terbentuk dengan baik dan cepat untuk melawan Covid-19. Evaluasi keamanan PiCoVacc dilakukan secara sistematis pada kera dengan mencatat sejumlah pengamatan klinis dan indeks biologis. Dua kelompok kera (n=10) diimunisasi dengan injeksi intramuskular dengan dosis rendah (1,5µg) atau tinggi (6µg) dan dua kelompok kera lainnya diimunisasi dengan adjuvant (sham) dan garam fisiologis (placebo) selama tiga kali pada hari ke-0, 7, dan 14. Hasil histopatologis pada berbagai organ termasuk paruparu, jantung limpa, hati, ginjal, dan otak dari empat kelompo kera pada hari ke-29 tidak menyebabkan dampak yang signifikan pada kera.


Britania Raya, Sang Pionir


Inggris dengan gagahnya mendeklarasikan diri sebagai negara pionir yang melakukan vaksinasi massal di dunia pada Selasa, 8 Desember 2020 lalu. Seorang wanita paruh baya bernama Margaret Keenan (90) adalah warga negara Inggris yang pertama disuntikkan vaksin BNT162b2 milik Pfizer/BioNTech. "Saya tidak grogi sama sekali. Ini adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi...Jika saya saja bisa melakukannya, tentu kalian juga bisa," ujar Keenan, dikutip dari kantor berita Reuters, Selasa, 8 Desember 2020. Keenam yang karib disapa Maggie oleh kawan-kawan terdekatnya pun merasa bangga karena dapat menjadi bagian dari sejarah vaksinasi dunia.

Suka cita tak hanya dirasakan Maggie, May Parsons seorang perawat yang bekerja selama 24 tahun di Britain’s National Health Service (NHS) turut merasakan hal yang sama. May mengungkapkan bahwa dirinya merasa amat bangga sebagai bagian dari sejarah vaksinasi pertama di dunia. “Saya bangga menjadi bagian hari bersejarah ini," terang May pada hari yang sama seusai menyuntikkan vaksin kepada Maggie. Wanita yang berasal dari Filipina ini pun tampak tenang menyuntikkan vaksin ke nenek yang kala itu mengenakan baju kaos biru dengan karakter penguin yang bertuliskan “Marry Christmas”. Seusai menerima suntikan vaksin, Maggie keluar dengan kursi roda sembari berpesan kepada mereka yang masih ragu dalam mengikuti vaksinasi atau tidak, “Lakukanlah!,” tegas Maggie. Nenek yang seminggu kemudian genap berusia 91 tahun ini menganggap bahwa tidak ada ruginya menerima vaksin karena selain gratis juga mampu membantu perlawanan terhadap Pandemi Covid-19.

Penerimaan vaksin ​​​​Pfizer-BioNTech COVID-19 oleh negeri yang dipimpin Ratu Elizabeth II ini ditengarai lantaran vaksin ini telah berhasil pada pengujian tahap III dan daya penawarnya pun mencapai 95 persen (diklaim tertinggi diantara vaksin lainnya). Selama tiga minggu sekali, Maggie dan penerima vaksin lainnya akan diberikan vaksinasi lanjutan sebanyak 2 kali suntik selama 3 minggu sekali. Tak hanya Inggris, seiring berkembangnya waktu, Amerika yang semula antipati dengan keputusan Inggris justru akhirnya memilih mengikuti jejak sang pionir yaitu Inggris, dengan melegalkan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 11 Desember 2020, dan memutuskan memulai resmi program vaksinasi pada tanggal 14 Desember 2020 dengan menyuntikkan jenis vaksin yang sama dengan yang dipergunakan Inggris. Kita tunggu giliran Indonesia. (kyu/ra).

30 views0 comments

Recent Posts

See All

Ada satu malam ketika Indonesia melompat kegirangan. Betul-betul senang bukan kepalang. Vaksin Covid-19 sudah datang. Maka sebentar lagi pandemi Covid-19 akan hilang. Begitu pikir masyarakat. Sampai l

Pada tanggal 2 Maret 2020, pergolakan Covid-19 di Indonesia bermula dari seorang ibu dan anaknya yang terpapar virus corona dari warga negara Jepang. Sejak saat itu, virus corona menjalar ke seluruh p